3 Pendukung Indonesia Ditahan oleh Polisi Diraja Malaysia



JAKARTA – Kementerian Luar Negeri Indonesia telah memperoleh informasi dari Polisi Diraja Malaysia (PDRM) mengenai penahanan tiga pendukung Indonesia di Malaysia.
Menurut informasi yang diterima, ketiganya ditangkap karena sebuah pos di akun Facebook akan membawa bom ke Stadion Nasional Bukit Jalil selama pertandingan Malaysia melawan Indonesia di Grup Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G.
Penjabat Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum (BHI) Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, mengatakan penangkapan itu terjadi pada Selasa, 19 November 2019 di area Stadion Bukit Jalil menjelang pertarungan. "Inisialnya adalah AS, RC, dan IT," kata Judha kepada Tempo, Jumat (22/11/2019).
Secara kronologis, katanya, PDRM melakukan pemeriksaan terhadap AS alias Andre karena informasi akan ada kerusuhan di Stadion Bukit Jalil. Akibat perkembangan itu, dua warga negara Indonesia lainnya, yaitu IT alias Ian dan RC alias Rifki juga ditangkap untuk diperiksa.
"Pemeriksaan PDRM untuk barang ketiga di lokasi (Stadion Nasional Bukit Jalil) tidak menemukan barang yang berisi bom," katanya.
Meski tidak ada barang berbahaya, kata Judha, PDRM terus berkembang dengan memeriksa isi ketiga ponsel untuk memantau komunikasi. Salah satunya, yakni AS alias Andre, mengaku memiliki akun facebook yang diduga memuat ucapan-ucapan akan membawa bom ke stadion.
"Akun ini kemudian dieksplorasi lebih lanjut, sejauh ini ketiganya masih dalam pemeriksaan IDP Cheras (Polsek) di Kuala Lumpur," jelasnya.
Sebelumnya, Ketua PSSI Mochamad Iriawan alias Iwan Bule, mengatakan berdasarkan laporan yang diterima, hingga Rabu pagi, 20 November 2019, dua orang (Rifki dan Ian) masih ditahan untuk menunggu hasil pemeriksaan forensik selnya di Polisi Sungai Besi. Stasiun, Kuala Lumpur.
"Informasi dari Polisi Sungai Besi, bahwa hasil forensik dirilis dalam waktu seminggu dan (jika) mereka jelas dan bersih, maka mereka akan dirilis," kata Iwan Bule dalam komunikasi via WhatsApp dengan Tempo.
Penangkapan itu diduga setelah penahanan orang Indonesia lain, bernama Andre, karena postingnya di akun Facebook-nya. Kedua pendukung awalnya membantu memberikan informasi terkait dengan pemilik akun, tetapi sebaliknya ditangkap dan ditahan.
Sebelumnya, di halaman media Malaysia, Harian Harian, melaporkan bahwa polisi menahan 41 pendukung setelah pertandingan pada Selasa malam, termasuk 14 dari Indonesia. Kepala Kepolisian Daerah Cheras, Asisten Kamerad Mohamed Zon, mengatakan bahwa semua orang dibebaskan setelah menyelesaikan proses dokumentasi.
Dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022, tim nasional Indonesia kalah dari tuan rumah Malaysia 2-0. Hasilnya meninggalkan Tim Garuda di bagian bawah Grup G dengan lima kekalahan dari lima pertandingan.
Kedutaan Besar Indonesia Membenarkan Pendukung Indonesia Ditusuk di Malaysia
Jakarta, CNN Indonesia – Kedutaan Besar Indonesia (Malaysia) untuk Malaysia mengkonfirmasi dugaan penikaman pendukung Tim Merah Putih di pertandingan Malaysia vs Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Stadion Bukit Jalil, Selasa (19/10).
Kepala Satuan Tugas Perlindungan Kedutaan Indonesia untuk Malaysia, Yusron B Ambary, mengatakan bahwa ia menerima beberapa laporan setelah Derbi Nusantara. Selain pemukulan pendukung, ada juga kasus menusuk pendukung skuad Garuda.
Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia sampai saat ini belum dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang kondisi korban penikaman.
"Informasi telah mati, sampai sekarang [kami] belum diterima. Beberapa ditikam, tetapi dipegang dengan tangan. Hanya tangannya yang sobek, "kata Yusron ketika dihubungi oleh Sesmenpora Gatot S Dewa Broto di depan wartawan, Kamis (21/11).
Yusron juga memberikan informasi terkait cuplikan video pendukung Indonesia & # 39; pemukulan yang viral di media sosial.
Menurut Yusron, insiden pemukulan terhadap seorang warga negara bernama Fuad terjadi di Bukit Bintang pada Senin (18/11) sebelum pertandingan Malaysia vs Indonesia.
"Ada satu kasus bahwa kami telah menerima laporan, yang beredar di media sosial, orang-orang kami [Indonesia] dipukuli. Orang itu telah tiba [ke Malaysia] satu malam sebelum hari pertandingan. Saya diberitahu oleh Aliansi Pendukung Indonesia, "kata Yusron.
Pos 3 Pendukung Indonesia Ditahan oleh Polisi Diraja Malaysia muncul pertama kali di Prediksi7up.com.



Source link

Posting Akan Membawa Bom, 3 Pendukung Indonesia Ditahan oleh Polisi Malaysia



JAKARTA – Kementerian Luar Negeri Indonesia telah memperoleh informasi dari Polisi Diraja Malaysia (PDRM) mengenai penahanan tiga pendukung Indonesia di Malaysia.
Menurut informasi yang diterima, ketiganya ditangkap karena sebuah pos di akun Facebook akan membawa bom ke Stadion Nasional Bukit Jalil selama pertandingan Malaysia melawan Indonesia di Grup Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G.
Penjabat Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum (BHI) Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, mengatakan penangkapan itu terjadi pada Selasa, 19 November 2019 di area Stadion Bukit Jalil menjelang pertarungan. "Inisialnya adalah AS, RC, dan IT," kata Judha kepada Tempo, Jumat (22/11/2019).
Secara kronologis, katanya, PDRM melakukan pemeriksaan terhadap AS alias Andre karena informasi akan ada kerusuhan di Stadion Bukit Jalil. Akibat perkembangan itu, dua warga negara Indonesia lainnya, yaitu IT alias Ian dan RC alias Rifki juga ditangkap untuk diperiksa.
"Pemeriksaan PDRM untuk barang ketiga di lokasi (Stadion Nasional Bukit Jalil) tidak menemukan barang yang berisi bom," katanya.
Meski tidak ada barang berbahaya, kata Judha, PDRM terus berkembang dengan memeriksa isi ketiga ponsel untuk memantau komunikasi. Salah satunya, yakni AS alias Andre, mengaku memiliki akun facebook yang diduga memuat ucapan-ucapan akan membawa bom ke stadion.
"Akun ini kemudian dieksplorasi lebih lanjut, sejauh ini ketiganya masih dalam pemeriksaan IDP Cheras (Polsek) di Kuala Lumpur," jelasnya.
Sebelumnya, Ketua PSSI Mochamad Iriawan alias Iwan Bule, mengatakan berdasarkan laporan yang diterima, hingga Rabu pagi, 20 November 2019, dua orang (Rifki dan Ian) masih ditahan untuk menunggu hasil pemeriksaan forensik selnya di Polisi Sungai Besi. Stasiun, Kuala Lumpur.
"Informasi dari Polisi Sungai Besi, bahwa hasil forensik dirilis dalam waktu seminggu dan (jika) mereka jelas dan bersih, maka mereka akan dirilis," kata Iwan Bule dalam komunikasi via WhatsApp dengan Tempo.
Penangkapan itu diduga setelah penahanan orang Indonesia lain, bernama Andre, karena postingnya di akun Facebook-nya. Kedua pendukung awalnya membantu memberikan informasi terkait dengan pemilik akun, tetapi sebaliknya ditangkap dan ditahan.
Sebelumnya, di halaman media Malaysia, Harian Harian, melaporkan bahwa polisi menahan 41 pendukung setelah pertandingan pada Selasa malam, termasuk 14 dari Indonesia. Kepala Kepolisian Daerah Cheras, Asisten Kamerad Mohamed Zon, mengatakan bahwa semua orang dibebaskan setelah menyelesaikan proses dokumentasi.
Dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022, tim nasional Indonesia kalah dari tuan rumah Malaysia 2-0. Hasilnya meninggalkan Tim Garuda di bagian bawah Grup G dengan lima kekalahan dari lima pertandingan.
Kedutaan Besar Indonesia Membenarkan Pendukung Indonesia Ditusuk di Malaysia
Jakarta, CNN Indonesia – Kedutaan Besar Indonesia (Malaysia) untuk Malaysia mengkonfirmasi dugaan penikaman pendukung Tim Merah Putih di pertandingan Malaysia vs Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Stadion Bukit Jalil, Selasa (19/10).
Kepala Satuan Tugas Perlindungan Kedutaan Indonesia untuk Malaysia, Yusron B Ambary, mengatakan bahwa ia menerima beberapa laporan setelah Derbi Nusantara. Selain pemukulan pendukung, ada juga kasus menusuk pendukung skuad Garuda.
Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia sampai saat ini belum dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang kondisi korban penikaman.
"Informasi telah mati, sampai sekarang [kami] belum diterima. Beberapa ditikam, tetapi dipegang dengan tangan. Hanya tangannya yang sobek, "kata Yusron ketika dihubungi oleh Sesmenpora Gatot S Dewa Broto di depan wartawan, Kamis (21/11).
Yusron juga memberikan informasi terkait cuplikan video pendukung Indonesia & # 39; pemukulan yang viral di media sosial.
Menurut Yusron, insiden pemukulan terhadap seorang warga negara bernama Fuad terjadi di Bukit Bintang pada Senin (18/11) sebelum pertandingan Malaysia vs Indonesia.
"Ada satu kasus bahwa kami telah menerima laporan, yang beredar di media sosial, orang-orang kami [Indonesia] dipukuli. Orang itu telah tiba [ke Malaysia] satu malam sebelum hari pertandingan. Saya diberitahu oleh Aliansi Pendukung Indonesia, "kata Yusron.



Source link

3 Pendukung Indonesia Ditahan di Malaysia



JAKARTA – Kementerian Luar Negeri Indonesia telah memperoleh informasi dari Polisi Diraja Malaysia (PDRM) mengenai penahanan tiga pendukung Indonesia di Malaysia.
Menurut informasi yang diterima, ketiganya ditangkap karena sebuah pos di akun Facebook akan membawa bom ke Stadion Nasional Bukit Jalil selama pertandingan Malaysia melawan Indonesia di Grup Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G.
Penjabat Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum (BHI) Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, mengatakan penangkapan itu terjadi pada Selasa, 19 November 2019 di area Stadion Bukit Jalil menjelang pertarungan. "Inisialnya adalah AS, RC, dan IT," kata Judha kepada Tempo, Jumat (22/11/2019).
Secara kronologis, katanya, PDRM melakukan pemeriksaan terhadap AS alias Andre karena informasi akan ada kerusuhan di Stadion Bukit Jalil. Akibat perkembangan itu, dua warga negara Indonesia lainnya, yaitu IT alias Ian dan RC alias Rifki juga ditangkap untuk diperiksa.
"Pemeriksaan PDRM untuk barang ketiga di lokasi (Stadion Nasional Bukit Jalil) tidak menemukan barang yang berisi bom," katanya.
Meski tidak ada barang berbahaya, kata Judha, PDRM terus berkembang dengan memeriksa isi ketiga ponsel untuk memantau komunikasi. Salah satunya, yakni AS alias Andre, mengaku memiliki akun facebook yang diduga memuat ucapan-ucapan akan membawa bom ke stadion.
"Akun ini kemudian dieksplorasi lebih lanjut, sejauh ini ketiganya masih dalam pemeriksaan IDP Cheras (Polsek) di Kuala Lumpur," jelasnya.
Sebelumnya, Ketua PSSI Mochamad Iriawan alias Iwan Bule, mengatakan berdasarkan laporan yang diterima, hingga Rabu pagi, 20 November 2019, dua orang (Rifki dan Ian) masih ditahan untuk menunggu hasil pemeriksaan forensik selnya di Polisi Sungai Besi. Stasiun, Kuala Lumpur.
"Informasi dari Polisi Sungai Besi, bahwa hasil forensik dirilis dalam waktu seminggu dan (jika) mereka jelas dan bersih, maka mereka akan dirilis," kata Iwan Bule dalam komunikasi via WhatsApp dengan Tempo.
Penangkapan itu diduga setelah penahanan orang Indonesia lain, bernama Andre, karena postingnya di akun Facebook-nya. Kedua pendukung awalnya membantu memberikan informasi terkait dengan pemilik akun, tetapi sebaliknya ditangkap dan ditahan.
Sebelumnya, di halaman media Malaysia, Harian Harian, melaporkan bahwa polisi menahan 41 pendukung setelah pertandingan pada Selasa malam, termasuk 14 dari Indonesia. Kepala Kepolisian Daerah Cheras, Asisten Kamerad Mohamed Zon, mengatakan bahwa semua orang dibebaskan setelah menyelesaikan proses dokumentasi.
Dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022, tim nasional Indonesia kalah dari tuan rumah Malaysia 2-0. Hasilnya meninggalkan Tim Garuda di bagian bawah Grup G dengan lima kekalahan dari lima pertandingan.
Kedutaan Besar Indonesia Membenarkan Pendukung Indonesia Ditusuk di Malaysia
Jakarta, CNN Indonesia – Kedutaan Besar Indonesia (Malaysia) untuk Malaysia mengkonfirmasi dugaan penikaman pendukung Tim Merah Putih di pertandingan Malaysia vs Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Stadion Bukit Jalil, Selasa (19/10).
Kepala Satuan Tugas Perlindungan Kedutaan Indonesia untuk Malaysia, Yusron B Ambary, mengatakan bahwa ia menerima beberapa laporan setelah Derbi Nusantara. Selain pemukulan pendukung, ada juga kasus menusuk pendukung skuad Garuda.
Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia sampai saat ini belum dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang kondisi korban penikaman.
"Informasi telah mati, sampai sekarang [kami] belum diterima. Beberapa ditikam, tetapi dipegang dengan tangan. Hanya tangannya yang sobek, "kata Yusron ketika dihubungi oleh Sesmenpora Gatot S Dewa Broto di depan wartawan, Kamis (21/11).
Yusron juga memberikan informasi terkait cuplikan video pendukung Indonesia & # 39; pemukulan yang viral di media sosial.
Menurut Yusron, insiden pemukulan terhadap seorang warga negara bernama Fuad terjadi di Bukit Bintang pada Senin (18/11) sebelum pertandingan Malaysia vs Indonesia.
"Ada satu kasus bahwa kami telah menerima laporan, yang beredar di media sosial, orang-orang kami [Indonesia] dipukuli. Orang itu telah tiba [ke Malaysia] satu malam sebelum hari pertandingan. Saya diberitahu oleh Aliansi Pendukung Indonesia, "kata Yusron.
Pos 3 Pendukung Indonesia yang Ditahan di Malaysia muncul pertama kali di PREDIKSICASH.COM.



Source link

Pendukung Indonesia Ditahan dan Ditahan di Malaysia



JAKARTA – Kementerian Luar Negeri Indonesia telah memperoleh informasi dari Polisi Diraja Malaysia (PDRM) mengenai penahanan tiga pendukung Indonesia di Malaysia.
Menurut informasi yang diterima, ketiganya ditangkap karena sebuah pos di akun Facebook akan membawa bom ke Stadion Nasional Bukit Jalil selama pertandingan Malaysia melawan Indonesia di Grup Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G.
Penjabat Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum (BHI) Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, mengatakan penangkapan itu terjadi pada Selasa, 19 November 2019 di area Stadion Bukit Jalil menjelang pertarungan. "Inisialnya adalah AS, RC, dan IT," kata Judha kepada Tempo, Jumat (22/11/2019).
Secara kronologis, katanya, PDRM melakukan pemeriksaan terhadap AS alias Andre karena informasi akan ada kerusuhan di Stadion Bukit Jalil. Akibat perkembangan itu, dua warga negara Indonesia lainnya, yaitu IT alias Ian dan RC alias Rifki juga ditangkap untuk diperiksa.
"Pemeriksaan PDRM untuk barang ketiga di lokasi (Stadion Nasional Bukit Jalil) tidak menemukan barang yang berisi bom," katanya.
Meski tidak ada barang berbahaya, kata Judha, PDRM terus berkembang dengan memeriksa isi ketiga ponsel untuk memantau komunikasi. Salah satunya, yakni AS alias Andre, mengaku memiliki akun facebook yang diduga memuat ucapan-ucapan akan membawa bom ke stadion.
"Akun ini kemudian dieksplorasi lebih lanjut, sejauh ini ketiganya masih dalam pemeriksaan IDP Cheras (Polsek) di Kuala Lumpur," jelasnya.
Sebelumnya, Ketua PSSI Mochamad Iriawan alias Iwan Bule, mengatakan berdasarkan laporan yang diterima, hingga Rabu pagi, 20 November 2019, dua orang (Rifki dan Ian) masih ditahan untuk menunggu hasil pemeriksaan forensik selnya di Polisi Sungai Besi. Stasiun, Kuala Lumpur.
"Informasi dari Polisi Sungai Besi, bahwa hasil forensik dirilis dalam waktu seminggu dan (jika) mereka jelas dan bersih, maka mereka akan dirilis," kata Iwan Bule dalam komunikasi via WhatsApp dengan Tempo.
Penangkapan itu diduga setelah penahanan orang Indonesia lain, bernama Andre, karena postingnya di akun Facebook-nya. Kedua pendukung awalnya membantu memberikan informasi terkait dengan pemilik akun, tetapi sebaliknya ditangkap dan ditahan.
Sebelumnya, di halaman media Malaysia, Harian Harian, melaporkan bahwa polisi menahan 41 pendukung setelah pertandingan pada Selasa malam, termasuk 14 dari Indonesia. Kepala Kepolisian Daerah Cheras, Asisten Kamerad Mohamed Zon, mengatakan bahwa semua orang dibebaskan setelah menyelesaikan proses dokumentasi.
Dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022, tim nasional Indonesia kalah dari tuan rumah Malaysia 2-0. Hasilnya meninggalkan Tim Garuda di bagian bawah Grup G dengan lima kekalahan dari lima pertandingan.
Kedutaan Besar Indonesia Membenarkan Pendukung Indonesia Ditusuk di Malaysia
Jakarta, CNN Indonesia – Kedutaan Besar Indonesia (Malaysia) untuk Malaysia mengkonfirmasi dugaan penikaman pendukung Tim Merah Putih di pertandingan Malaysia vs Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Stadion Bukit Jalil, Selasa (19/10).
Kepala Satuan Tugas Perlindungan Kedutaan Indonesia untuk Malaysia, Yusron B Ambary, mengatakan bahwa ia menerima beberapa laporan setelah Derbi Nusantara. Selain pemukulan pendukung, ada juga kasus menusuk pendukung skuad Garuda.
Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia sampai saat ini belum dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang kondisi korban penikaman.
"Informasi telah mati, sampai sekarang [kami] belum diterima. Beberapa ditikam, tetapi dipegang dengan tangan. Hanya tangannya yang sobek, "kata Yusron ketika dihubungi oleh Sesmenpora Gatot S Dewa Broto di depan wartawan, Kamis (21/11).
Yusron juga memberikan informasi terkait cuplikan video pendukung Indonesia & # 39; pemukulan yang viral di media sosial.
Menurut Yusron, insiden pemukulan terhadap seorang warga negara bernama Fuad terjadi di Bukit Bintang pada Senin (18/11) sebelum pertandingan Malaysia vs Indonesia.
"Ada satu kasus bahwa kami telah menerima laporan, yang beredar di media sosial, orang-orang kami [Indonesia] dipukuli. Orang itu telah tiba [ke Malaysia] satu malam sebelum hari pertandingan. Saya diberitahu oleh Aliansi Pendukung Indonesia, "kata Yusron.
Pos Pendukung Indonesia Ditahan dan Ditusuk di Malaysia muncul pertama kali di Juniorbola.net.



Source link

Sejarah Seria A Italia – Trio Duel Belanda vs Jerman



Sejarah Sepak Bola – Pada 1980-an hingga 1990-an Liga Italia adalah kompetisi kompetitif pada Jumat (22/11/2019)
Pemain bisa dikatakan elit jika mereka sudah bermain dan merasakan persaingan yang ketat di Serie A.
Banyak pemain top dunia pada waktu itu merumput di Italia, sebut saja Diego Armando Maradona, kepada Zico.
Pada awal 1980-an ada persaingan ketat antara dua bintang milik Juventus dan Napoli, Michel Platini dan Diego Maradona.
Kemudian memasuki tahun 1990-an dominasi bergeser ke kota Milan, tepatnya Rossoneri yang memiliki trio Belanda.
Benar, pada awal 90-an, AC Milan yang ditangani Arrigo Sacchi memiliki tiga pemain Belanda yang menjadi andalannya.
Ketiganya termasuk Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard.
Ketiganya dikombinasikan dengan bakat luar biasa Italia, seperti Paolo Maldini, Franco Baresi, hingga Costacurta membuat AC Milan dijuluki The Dream Team pada saat itu.
Kehebatan trio Belanda saat itu membuat AC Milan berhasil merangkul empat Scudetto dan Piala Eropa.
Tentu saja kesuksesan AC Milan membuat saingan kotanya Inter Milan mencoba menyamakannya.
Tim berjuluk Nerazzurri berhasil membawa trisula lain yang datang dari Jerman.
Pertama kali Inter Milan membawa duo Jerman itu lebih dulu, adalah Lothar Matthaus dan Andreas Brehme pada tahun 1988.
Satu tahun kemudian, ketiganya dibentuk dengan Inter yang berhasil mengambil striker Stuttgart, Jurgen Klinsmann.
Kompetisi Liga Italia semakin memanas dengan pertarungan trio Jerman dan Belanda yang memperkuat kedua tim kota Milan.
Dilansir dari These Football Times, Lothar Matthaus didatangkan oleh Inter dari Bayern Munich pada tahun 1988.
Selama waktunya di The Bavarian, Matthaus berhasil mencatat 113 penampilan dan menyumbang 57 gol untuk Jeman raksasa.
Rekor yang sangat mengesankan bagi pemain yang bermain sebagai gelandang bertahan.
Pemain yang juga bisa bermain sebagai libero telah memperkuat Inter Milan selama empat tahun dan mencatat 40 gol dalam 115 penampilan.
Dia adalah gelandang bertahan yang elegan, membuktikan bahwa dia mampu mengelola permainan sebagai gelandang dan membantu menyerang ketika timnya mengalami kebuntuan.
Lothar Matthaus juga terkenal karena keunggulannya melalui duel udara, meskipun ia tidak memiliki ketinggian ideal sebagai gelandang bertahan.
Sementara itu, Andreas Brehme, yang sama dengan memperkuat Bayern Munich dengan Matthaus, adalah bek kiri yang hebat.
Meski bukan yang terbaik di zamannya, Brehme adalah pemain khas yang mengandalkan kecerdasannya saat bermain.
Pada awal kedatangannya di Inter Milan, duo Jerman itu memang merasa sulit untuk mematahkan dominasi Juventus, Napoli, ke AC Milan.
Matthaus, yang bertugas di lapangan, sedang berusaha mengakomodasi serangan dan pertahanan dari tim Nerazzurri.
Sementara Brehme berhasil membangun garis pertahanan yang kuat bersama Walter Zenga, Giuseppe Baresi, hingga Giuseppe Bergomi.
Saat itu garis pertahanan Inter Milan adalah tim dengan jumlah kekalahan paling sedikit, total 19 gol dalam 32 pertandingan.
Duo Kedatagan Jerman memiliki dampak signifikan pada permainan tim hitam dan biru.
Striker Inter saat itu, Aldo Serena adalah seorang striker yang hanya mampu mengumpulkan 40 gol dalam empat musim di seragam Nerazzurri.
Tetapi dengan kedatangan Matthaus sebagai gelandang kotak ke kotak dan Brehme di sisi fullbek mampu membuat Serena mencetak 22 gol.
Serena berhasil memenangkan gelar Capocannoniere atau pencetak gol terbanyak Liga Italia.
Dampak instan kedua pemain Jerman itu pada musim 1988/1989 membuat Inter Milan memenangkan gelar Scudetto bersama pelatih mereka, Giovanni Trapattoni.
Lini depan tim moncernya hitam dan biru yang diisi oleh duo Ramon Diaz dan Aldo Serena tidak membuat Trapattoni enggan melirik penerjemah lain.
Alhasil pada tahun 1989, Milan Milan mengambil Jurgen Klinsmann dari Stuttgart.
Klinsman adalah musim yang sama ketika Inter mengangkat Scudetto, ia berhasil membawa timnya ke puncak Piala UEFA.
Pada tahun yang sama Jurgen Klinsmann dinobatkan sebagai pemain terbaik Jerman.
Klinsmann bukan seorang striker yang memiliki kekuatan fisik terbaik di dunia, ia seperti kapas dalam angin.
Alih-alih tidak memiliki keunggulan fisik, Klinsmann adalah striker yang lebih mengandalkan kecerdasannya.
Jurgen Klinsmann saat di Inter Milan mencatat 95 penampilan dan mencetak 34 gol.
Dia membuat gol pertamanya dengan Nerazzurri selama pertandingan kedua, ketika mereka melakukan perjalanan ke markas Bologna.
Meski trio Jerman saat itu bermain gemilang, namun nyatanya Nerazzuri gagal mempertahankan gelar Scudetto pada musim 189/1990.
Napoli menang untuk kedua kalinya musim itu.
Namun, pada saat itu, Klinsmann menjadi pencetak gol terbanyak klub dengan 15 gol.
Sebagian besar golnya diperoleh melalui umpan yang diberikan oleh Lothar Matthaus.
Sementara itu, pertahanan Andreas Brehme adalah yang terbaik keempat.
Trio Jerman ini berhasil mengobati luka-luka para pendukung Interisti dengan membangkitkan gelar juara Piala Dunia 90 bersama Jerman Barat.
Tro Jerman dan rekan-rekannya mengalahkan Argentina di partai teratas.
Dalam gelar elit dunia, Klinsmann membukukan tiga gol bersama Andreas Brehme, sedangkan Matthaus mencetak empat gol.
Pendukung Inter Milan merasa timnya telah membantu Jerman memenangkan gelar Piala Dunia, meskipun tridente Jerman tidak mengenakan seragam biru dan hitam.
Untuk trio Jerman, dapat dikatakan bahwa periode 1988-1992 adalah periode terbaik bagi mereka.
Lothar Matthaus membuktikan dirinya sebagai salah satu permainan lini tengah terbaik di liga terberat di dunia.
Sementara Brehme membuktikan bahwa ia mampu menjadi pemain individu yang luar biasa dan dengan cemerlang memimpin unit pertahanan.
Klinsmann mampu melangkah maju dan menjadi striker kelas dunia di klub, memainkan peran besar dalam kemenangan Piala UEFA.
Ketiganya mungkin tidak diingat seperti trio Balanda, tetapi untuk pendukung setia Inter Milan, mereka dapat dikatakan lebih baik daripada Ruud Gullit, Marco Van Basten, untuk Frank Rijkaard.
Posting Sejarah Seria A Italia – Duel Trio Belanda vs Jerman muncul pertama kali di Prediksi7up.com.



Source link

Marco Van Basten, Ruud Gullit, Frank Rijkaard VS Jurgen Klinsmann, Lothar Matthaus, Andreas Brehme



Sejarah Sepak Bola – Pada 1980-an hingga 1990-an Liga Italia adalah kompetisi kompetitif pada Jumat (22/11/2019)
Pemain bisa dikatakan elit jika mereka sudah bermain dan merasakan persaingan yang ketat di Serie A.
Banyak pemain top dunia pada waktu itu merumput di Italia, sebut saja Diego Armando Maradona, kepada Zico.
Pada awal 1980-an ada persaingan ketat antara dua bintang milik Juventus dan Napoli, Michel Platini dan Diego Maradona.
Kemudian memasuki tahun 1990-an dominasi bergeser ke kota Milan, tepatnya Rossoneri yang memiliki trio Belanda.
Benar, pada awal 90-an, AC Milan yang ditangani Arrigo Sacchi memiliki tiga pemain Belanda yang menjadi andalannya.
Ketiganya termasuk Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard.
Ketiganya dikombinasikan dengan bakat luar biasa Italia, seperti Paolo Maldini, Franco Baresi, hingga Costacurta membuat AC Milan dijuluki The Dream Team pada saat itu.
Kehebatan trio Belanda saat itu membuat AC Milan berhasil merangkul empat Scudetto dan Piala Eropa.
Tentu saja kesuksesan AC Milan membuat saingan kotanya Inter Milan mencoba menyamakannya.
Tim berjuluk Nerazzurri berhasil membawa trisula lain yang datang dari Jerman.
Pertama kali Inter Milan membawa duo Jerman itu lebih dulu, adalah Lothar Matthaus dan Andreas Brehme pada tahun 1988.
Satu tahun kemudian, ketiganya dibentuk dengan Inter yang berhasil mengambil striker Stuttgart, Jurgen Klinsmann.
Kompetisi Liga Italia semakin memanas dengan pertarungan trio Jerman dan Belanda yang memperkuat kedua tim kota Milan.
Dilansir dari These Football Times, Lothar Matthaus didatangkan oleh Inter dari Bayern Munich pada tahun 1988.
Selama waktunya di The Bavarian, Matthaus berhasil mencatat 113 penampilan dan menyumbang 57 gol untuk Jeman raksasa.
Rekor yang sangat mengesankan bagi pemain yang bermain sebagai gelandang bertahan.
Pemain yang juga bisa bermain sebagai libero telah memperkuat Inter Milan selama empat tahun dan mencatat 40 gol dalam 115 penampilan.
Dia adalah gelandang bertahan yang elegan, membuktikan bahwa dia mampu mengelola permainan sebagai gelandang dan membantu menyerang ketika timnya mengalami kebuntuan.
Lothar Matthaus juga terkenal karena keunggulannya melalui duel udara, meskipun ia tidak memiliki ketinggian ideal sebagai gelandang bertahan.
Sementara itu, Andreas Brehme, yang sama dengan memperkuat Bayern Munich dengan Matthaus, adalah bek kiri yang hebat.
Meski bukan yang terbaik di zamannya, Brehme adalah pemain khas yang mengandalkan kecerdasannya saat bermain.
Pada awal kedatangannya di Inter Milan, duo Jerman itu memang merasa sulit untuk mematahkan dominasi Juventus, Napoli, ke AC Milan.
Matthaus, yang bertugas di lapangan, sedang berusaha mengakomodasi serangan dan pertahanan dari tim Nerazzurri.
Sementara Brehme berhasil membangun garis pertahanan yang kuat bersama Walter Zenga, Giuseppe Baresi, hingga Giuseppe Bergomi.
Saat itu garis pertahanan Inter Milan adalah tim dengan jumlah kekalahan paling sedikit, total 19 gol dalam 32 pertandingan.
Duo Kedatagan Jerman memiliki dampak signifikan pada permainan tim hitam dan biru.
Striker Inter saat itu, Aldo Serena adalah seorang striker yang hanya mampu mengumpulkan 40 gol dalam empat musim di seragam Nerazzurri.
Tetapi dengan kedatangan Matthaus sebagai gelandang kotak ke kotak dan Brehme di sisi fullbek mampu membuat Serena mencetak 22 gol.
Serena berhasil memenangkan gelar Capocannoniere atau pencetak gol terbanyak Liga Italia.
Dampak instan kedua pemain Jerman itu pada musim 1988/1989 membuat Inter Milan memenangkan gelar Scudetto bersama pelatih mereka, Giovanni Trapattoni.
Lini depan tim moncernya hitam dan biru yang diisi oleh duo Ramon Diaz dan Aldo Serena tidak membuat Trapattoni enggan melirik penerjemah lain.
Alhasil pada tahun 1989, Milan Milan mengambil Jurgen Klinsmann dari Stuttgart.
Klinsman adalah musim yang sama ketika Inter mengangkat Scudetto, ia berhasil membawa timnya ke puncak Piala UEFA.
Pada tahun yang sama Jurgen Klinsmann dinobatkan sebagai pemain terbaik Jerman.
Klinsmann bukan seorang striker yang memiliki kekuatan fisik terbaik di dunia, ia seperti kapas dalam angin.
Alih-alih tidak memiliki keunggulan fisik, Klinsmann adalah striker yang lebih mengandalkan kecerdasannya.
Jurgen Klinsmann saat di Inter Milan mencatat 95 penampilan dan mencetak 34 gol.
Dia membuat gol pertamanya dengan Nerazzurri selama pertandingan kedua, ketika mereka melakukan perjalanan ke markas Bologna.
Meski trio Jerman saat itu bermain gemilang, namun nyatanya Nerazzuri gagal mempertahankan gelar Scudetto pada musim 189/1990.
Napoli menang untuk kedua kalinya musim itu.
Namun, pada saat itu, Klinsmann menjadi pencetak gol terbanyak klub dengan 15 gol.
Sebagian besar golnya diperoleh melalui umpan yang diberikan oleh Lothar Matthaus.
Sementara itu, pertahanan Andreas Brehme adalah yang terbaik keempat.
Trio Jerman ini berhasil mengobati luka-luka para pendukung Interisti dengan membangkitkan gelar juara Piala Dunia 90 bersama Jerman Barat.
Tro Jerman dan rekan-rekannya mengalahkan Argentina di partai teratas.
Dalam gelar elit dunia, Klinsmann membukukan tiga gol bersama Andreas Brehme, sedangkan Matthaus mencetak empat gol.
Pendukung Inter Milan merasa timnya telah membantu Jerman memenangkan gelar Piala Dunia, meskipun tridente Jerman tidak mengenakan seragam biru dan hitam.
Untuk trio Jerman, dapat dikatakan bahwa periode 1988-1992 adalah periode terbaik bagi mereka.
Lothar Matthaus membuktikan dirinya sebagai salah satu permainan lini tengah terbaik di liga terberat di dunia.
Sementara Brehme membuktikan bahwa ia mampu menjadi pemain individu yang luar biasa dan dengan cemerlang memimpin unit pertahanan.
Klinsmann mampu melangkah maju dan menjadi striker kelas dunia di klub, memainkan peran besar dalam kemenangan Piala UEFA.
Ketiganya mungkin tidak diingat seperti trio Balanda, tetapi untuk pendukung setia Inter Milan, mereka dapat dikatakan lebih baik daripada Ruud Gullit, Marco Van Basten, untuk Frank Rijkaard.



Source link

Sejarah Liga Italia – Pertempuran Trio Belanda vs Jerman



Sejarah Sepak Bola – Pada 1980-an hingga 1990-an Liga Italia adalah kompetisi kompetitif pada Jumat (22/11/2019)
Pemain bisa dikatakan elit jika mereka sudah bermain dan merasakan persaingan yang ketat di Serie A.
Banyak pemain top dunia pada waktu itu merumput di Italia, sebut saja Diego Armando Maradona, kepada Zico.
Pada awal 1980-an ada persaingan ketat antara dua bintang milik Juventus dan Napoli, Michel Platini dan Diego Maradona.
Kemudian memasuki tahun 1990-an dominasi bergeser ke kota Milan, tepatnya Rossoneri yang memiliki trio Belanda.
Benar, pada awal 90-an, AC Milan yang ditangani Arrigo Sacchi memiliki tiga pemain Belanda yang menjadi andalannya.
Ketiganya termasuk Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard.
Ketiganya dikombinasikan dengan bakat luar biasa Italia, seperti Paolo Maldini, Franco Baresi, hingga Costacurta membuat AC Milan dijuluki The Dream Team pada saat itu.
Kehebatan trio Belanda saat itu membuat AC Milan berhasil merangkul empat Scudetto dan Piala Eropa.
Tentu saja kesuksesan AC Milan membuat saingan kotanya Inter Milan mencoba menyamakannya.
Tim berjuluk Nerazzurri berhasil membawa trisula lain yang datang dari Jerman.
Pertama kali Inter Milan membawa duo Jerman itu lebih dulu, adalah Lothar Matthaus dan Andreas Brehme pada tahun 1988.
Satu tahun kemudian, ketiganya dibentuk dengan Inter yang berhasil mengambil striker Stuttgart, Jurgen Klinsmann.
Kompetisi Liga Italia semakin memanas dengan pertarungan trio Jerman dan Belanda yang memperkuat kedua tim kota Milan.
Dilansir dari These Football Times, Lothar Matthaus didatangkan oleh Inter dari Bayern Munich pada tahun 1988.
Selama waktunya di The Bavarian, Matthaus berhasil mencatat 113 penampilan dan menyumbang 57 gol untuk Jeman raksasa.
Rekor yang sangat mengesankan bagi pemain yang bermain sebagai gelandang bertahan.
Pemain yang juga bisa bermain sebagai libero telah memperkuat Inter Milan selama empat tahun dan mencatat 40 gol dalam 115 penampilan.
Dia adalah gelandang bertahan yang elegan, membuktikan bahwa dia mampu mengelola permainan sebagai gelandang dan membantu menyerang ketika timnya mengalami kebuntuan.
Lothar Matthaus juga terkenal karena keunggulannya melalui duel udara, meskipun ia tidak memiliki ketinggian ideal sebagai gelandang bertahan.
Sementara itu, Andreas Brehme, yang sama dengan memperkuat Bayern Munich dengan Matthaus, adalah bek kiri yang hebat.
Meski bukan yang terbaik di zamannya, Brehme adalah pemain khas yang mengandalkan kecerdasannya saat bermain.
Pada awal kedatangannya di Inter Milan, duo Jerman itu memang merasa sulit untuk mematahkan dominasi Juventus, Napoli, ke AC Milan.
Matthaus, yang bertugas di lapangan, sedang berusaha mengakomodasi serangan dan pertahanan dari tim Nerazzurri.
Sementara Brehme berhasil membangun garis pertahanan yang kuat bersama Walter Zenga, Giuseppe Baresi, hingga Giuseppe Bergomi.
Saat itu garis pertahanan Inter Milan adalah tim dengan jumlah kekalahan paling sedikit, total 19 gol dalam 32 pertandingan.
Duo Kedatagan Jerman memiliki dampak signifikan pada permainan tim hitam dan biru.
Striker Inter saat itu, Aldo Serena adalah seorang striker yang hanya mampu mengumpulkan 40 gol dalam empat musim di seragam Nerazzurri.
Tetapi dengan kedatangan Matthaus sebagai gelandang kotak ke kotak dan Brehme di sisi fullbek mampu membuat Serena mencetak 22 gol.
Serena berhasil memenangkan gelar Capocannoniere atau pencetak gol terbanyak Liga Italia.
Dampak instan kedua pemain Jerman itu pada musim 1988/1989 membuat Inter Milan memenangkan gelar Scudetto bersama pelatih mereka, Giovanni Trapattoni.
Lini depan tim moncernya hitam dan biru yang diisi oleh duo Ramon Diaz dan Aldo Serena tidak membuat Trapattoni enggan melirik penerjemah lain.
Alhasil pada tahun 1989, Milan Milan mengambil Jurgen Klinsmann dari Stuttgart.
Klinsman adalah musim yang sama ketika Inter mengangkat Scudetto, ia berhasil membawa timnya ke puncak Piala UEFA.
Pada tahun yang sama Jurgen Klinsmann dinobatkan sebagai pemain terbaik Jerman.
Klinsmann bukan seorang striker yang memiliki kekuatan fisik terbaik di dunia, ia seperti kapas dalam angin.
Alih-alih tidak memiliki keunggulan fisik, Klinsmann adalah striker yang lebih mengandalkan kecerdasannya.
Jurgen Klinsmann saat di Inter Milan mencatat 95 penampilan dan mencetak 34 gol.
Dia membuat gol pertamanya dengan Nerazzurri selama pertandingan kedua, ketika mereka melakukan perjalanan ke markas Bologna.
Meski trio Jerman saat itu bermain gemilang, namun nyatanya Nerazzuri gagal mempertahankan gelar Scudetto pada musim 189/1990.
Napoli menang untuk kedua kalinya musim itu.
Namun, pada saat itu, Klinsmann menjadi pencetak gol terbanyak klub dengan 15 gol.
Sebagian besar golnya diperoleh melalui umpan yang diberikan oleh Lothar Matthaus.
Sementara itu, pertahanan Andreas Brehme adalah yang terbaik keempat.
Trio Jerman ini berhasil mengobati luka-luka para pendukung Interisti dengan membangkitkan gelar juara Piala Dunia 90 bersama Jerman Barat.
Tro Jerman dan rekan-rekannya mengalahkan Argentina di partai teratas.
Dalam gelar elit dunia, Klinsmann membukukan tiga gol bersama Andreas Brehme, sedangkan Matthaus mencetak empat gol.
Pendukung Inter Milan merasa timnya telah membantu Jerman memenangkan gelar Piala Dunia, meskipun tridente Jerman tidak mengenakan seragam biru dan hitam.
Untuk trio Jerman, dapat dikatakan bahwa periode 1988-1992 adalah periode terbaik bagi mereka.
Lothar Matthaus membuktikan dirinya sebagai salah satu permainan lini tengah terbaik di liga terberat di dunia.
Sementara Brehme membuktikan bahwa ia mampu menjadi pemain individu yang luar biasa dan dengan cemerlang memimpin unit pertahanan.
Klinsmann mampu melangkah maju dan menjadi striker kelas dunia di klub, memainkan peran besar dalam kemenangan Piala UEFA.
Ketiganya mungkin tidak diingat seperti trio Balanda, tetapi untuk pendukung setia Inter Milan, mereka dapat dikatakan lebih baik daripada Ruud Gullit, Marco Van Basten, untuk Frank Rijkaard.
Posting Sejarah Liga Italia – Pertempuran Trio Belanda vs Jerman muncul pertama kali di PREDIKSICASH.COM.



Source link

Sejarah Seria A Italia – Kompetisi Trio Belanda vs Jerman



Sejarah Sepak Bola – Pada 1980-an hingga 1990-an Liga Italia adalah kompetisi kompetitif pada Jumat (22/11/2019)
Pemain bisa dikatakan elit jika mereka sudah bermain dan merasakan persaingan yang ketat di Serie A.
Banyak pemain top dunia pada waktu itu merumput di Italia, sebut saja Diego Armando Maradona, kepada Zico.
Pada awal 1980-an ada persaingan ketat antara dua bintang milik Juventus dan Napoli, Michel Platini dan Diego Maradona.
Kemudian memasuki tahun 1990-an dominasi bergeser ke kota Milan, tepatnya Rossoneri yang memiliki trio Belanda.
Benar, pada awal 90-an, AC Milan yang ditangani Arrigo Sacchi memiliki tiga pemain Belanda yang menjadi andalannya.
Ketiganya termasuk Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard.
Ketiganya dikombinasikan dengan bakat luar biasa Italia, seperti Paolo Maldini, Franco Baresi, hingga Costacurta membuat AC Milan dijuluki The Dream Team pada saat itu.
Kehebatan trio Belanda saat itu membuat AC Milan berhasil merangkul empat Scudetto dan Piala Eropa.
Tentu saja kesuksesan AC Milan membuat saingan kotanya Inter Milan mencoba menyamakannya.
Tim berjuluk Nerazzurri berhasil membawa trisula lain yang datang dari Jerman.
Pertama kali Inter Milan membawa duo Jerman itu lebih dulu, adalah Lothar Matthaus dan Andreas Brehme pada tahun 1988.
Satu tahun kemudian, ketiganya dibentuk dengan Inter yang berhasil mengambil striker Stuttgart, Jurgen Klinsmann.
Kompetisi Liga Italia semakin memanas dengan pertarungan trio Jerman dan Belanda yang memperkuat kedua tim kota Milan.
Dilansir dari These Football Times, Lothar Matthaus didatangkan oleh Inter dari Bayern Munich pada tahun 1988.
Selama waktunya di The Bavarian, Matthaus berhasil mencatat 113 penampilan dan menyumbang 57 gol untuk Jeman raksasa.
Rekor yang sangat mengesankan bagi pemain yang bermain sebagai gelandang bertahan.
Pemain yang juga bisa bermain sebagai libero telah memperkuat Inter Milan selama empat tahun dan mencatat 40 gol dalam 115 penampilan.
Dia adalah gelandang bertahan yang elegan, membuktikan bahwa dia mampu mengelola permainan sebagai gelandang dan membantu menyerang ketika timnya mengalami kebuntuan.
Lothar Matthaus juga terkenal karena keunggulannya melalui duel udara, meskipun ia tidak memiliki ketinggian ideal sebagai gelandang bertahan.
Sementara itu, Andreas Brehme, yang sama dengan memperkuat Bayern Munich dengan Matthaus, adalah bek kiri yang hebat.
Meski bukan yang terbaik di zamannya, Brehme adalah pemain khas yang mengandalkan kecerdasannya saat bermain.
Pada awal kedatangannya di Inter Milan, duo Jerman itu memang merasa sulit untuk mematahkan dominasi Juventus, Napoli, ke AC Milan.
Matthaus, yang bertugas di lapangan, sedang berusaha mengakomodasi serangan dan pertahanan dari tim Nerazzurri.
Sementara Brehme berhasil membangun garis pertahanan yang kuat bersama Walter Zenga, Giuseppe Baresi, hingga Giuseppe Bergomi.
Saat itu garis pertahanan Inter Milan adalah tim dengan jumlah kekalahan paling sedikit, total 19 gol dalam 32 pertandingan.
Duo Kedatagan Jerman memiliki dampak signifikan pada permainan tim hitam dan biru.
Striker Inter saat itu, Aldo Serena adalah seorang striker yang hanya mampu mengumpulkan 40 gol dalam empat musim di seragam Nerazzurri.
Tetapi dengan kedatangan Matthaus sebagai gelandang kotak ke kotak dan Brehme di sisi fullbek mampu membuat Serena mencetak 22 gol.
Serena berhasil memenangkan gelar Capocannoniere atau pencetak gol terbanyak Liga Italia.
Dampak instan kedua pemain Jerman itu pada musim 1988/1989 membuat Inter Milan memenangkan gelar Scudetto bersama pelatih mereka, Giovanni Trapattoni.
Lini depan tim moncernya hitam dan biru yang diisi oleh duo Ramon Diaz dan Aldo Serena tidak membuat Trapattoni enggan melirik penerjemah lain.
Alhasil pada tahun 1989, Milan Milan mengambil Jurgen Klinsmann dari Stuttgart.
Klinsman adalah musim yang sama ketika Inter mengangkat Scudetto, ia berhasil membawa timnya ke puncak Piala UEFA.
Pada tahun yang sama Jurgen Klinsmann dinobatkan sebagai pemain terbaik Jerman.
Klinsmann bukan seorang striker yang memiliki kekuatan fisik terbaik di dunia, ia seperti kapas dalam angin.
Alih-alih tidak memiliki keunggulan fisik, Klinsmann adalah striker yang lebih mengandalkan kecerdasannya.
Jurgen Klinsmann saat di Inter Milan mencatat 95 penampilan dan mencetak 34 gol.
Dia membuat gol pertamanya dengan Nerazzurri selama pertandingan kedua, ketika mereka melakukan perjalanan ke markas Bologna.
Meski trio Jerman saat itu bermain gemilang, namun nyatanya Nerazzuri gagal mempertahankan gelar Scudetto pada musim 189/1990.
Napoli menang untuk kedua kalinya musim itu.
Namun, pada saat itu, Klinsmann menjadi pencetak gol terbanyak klub dengan 15 gol.
Sebagian besar golnya diperoleh melalui umpan yang diberikan oleh Lothar Matthaus.
Sementara itu, pertahanan Andreas Brehme adalah yang terbaik keempat.
Trio Jerman ini berhasil mengobati luka-luka para pendukung Interisti dengan membangkitkan gelar juara Piala Dunia 90 bersama Jerman Barat.
Tro Jerman dan rekan-rekannya mengalahkan Argentina di partai teratas.
Dalam gelar elit dunia, Klinsmann membukukan tiga gol bersama Andreas Brehme, sedangkan Matthaus mencetak empat gol.
Pendukung Inter Milan merasa timnya telah membantu Jerman memenangkan gelar Piala Dunia, meskipun tridente Jerman tidak mengenakan seragam biru dan hitam.
Untuk trio Jerman, dapat dikatakan bahwa periode 1988-1992 adalah periode terbaik bagi mereka.
Lothar Matthaus membuktikan dirinya sebagai salah satu permainan lini tengah terbaik di liga terberat di dunia.
Sementara Brehme membuktikan bahwa ia mampu menjadi pemain individu yang luar biasa dan dengan cemerlang memimpin unit pertahanan.
Klinsmann mampu melangkah maju dan menjadi striker kelas dunia di klub, memainkan peran besar dalam kemenangan Piala UEFA.
Ketiganya mungkin tidak diingat seperti trio Balanda, tetapi untuk pendukung setia Inter Milan, mereka dapat dikatakan lebih baik daripada Ruud Gullit, Marco Van Basten, untuk Frank Rijkaard.
Posting Sejarah Seria A Italia – Kompetisi Trio Belanda vs Jerman pertama kali muncul di Juniorbola.net.



Source link

#GanyangMalaysia Menjadi Topik Tren, Setelah Pertandingan Malaysia vs Indonesia



Jakarta – Penganiayaan terhadap pendukung Tim Nasional Indonesia setelah melawan Malaysia di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Selasa (19/11/2019), menyulut kemarahan banyak orang.
Warga menyerukan tagar #GanyangMalaysia dan #shameonyousaddiq untuk menanggapi penganiayaan dan penikaman yang diduga dilakukan oleh orang Malaysia.
Tim Pantuan, Jumat (22/11/2019), #GanyangMalaysia berada di atas topik trending Twitter Indonesia saat berita ini ditulis. Sementara #shameonyousaddiq di posisi keempat.
Banyak warga mengungkapkan kemarahan mereka pada pelaku dan Menpora Malaysia, Syed Saddiq. Mereka menuntut Syed Saddiq meminta maaf atas tindakan para pendukung Malaysia dan menangkap para pelaku penganiayaan.
Warga menyesalkan pernyataan Syed Saddiq yang hanya memerintahkan korban untuk membuat laporan polisi. Dia tidak menyampaikan permintaan maaf.
Syed Saddiq juga menjamin bahwa proses investigasi akan dilakukan secara transparan.
"Jika seseorang dipukuli, tolong katakan padanya untuk membuat laporan kepada polisi. Kami akan memastikan bahwa akan ada penyelidikan yang tepat & transparan. Keadilan adalah untuk semua, apakah itu dari Malaysia atau Indonesia," tulisnya di akun Twitter resminya.
Berikut adalah beberapa warga negara & # 39; tweet yang terkait dengan penganiayaan:
"Malu pada kamu @ syedsaddiq #GanyangMalaysia," tulis @eko_al_kawisky.
"Bukti kebiadaban pendukung Malaysia. Ini mengkonfirmasi kebenaran video. Secara kronologis singkatnya, sehingga korban naik taksa di Malaysia, maka pengemudi yang sama bahkan dibawa ke sekelompok pendukung Malaysia yang siap untuk berkumpul, lalu diturunkan secara paksa di lokasi itu. #GanyangMalaysia, "celetuk pemilik akun @ibnuabdillahh.
"Saya tidak ingin mengatakan apa-apa. Tapi Astaghfirullah …. Malaysia PENUH KEMUDIAN #GanyangMalaysia," cucupetani menulis.
"Kami bahkan tidak perlu menaruh hormat pada mereka yang telah terbiasa mencuri budaya kami sepanjang waktu, kami bahkan tidak perlu sama sekali membutuhkannya untuk banyak omong kosong seperti @ SyedSaddiq dan seluruh orang Malaysia # maluonyousaddiq #shameonyoumalaysia #GanyangMalaysia, "tweet dari akun gilangadit7.
"Meskipun saya bukan penggemar sepak bola, tetapi ini semua tentang kemanusiaan … terlepas dari perbedaan atau kemarahan, tindakan ini tidak dapat diterima dan harus diproses ke pengadilan karena kasus ini terjadi di antara 2 negara .. #shameonyoumalaysia #shameonyousaddiq, "kata sebuah tweet dari @czar_narto.
Posting #GanyangMalaysia Menjadi Topik Tren, Setelah Pertandingan Malaysia vs Indonesia ditampilkan sebelumnya di Topikindo.



Source link

Pendukung Indonesia Dianiaya, Netizen Menyerukan #GanyangMalaysia



Jakarta – Penganiayaan terhadap pendukung Tim Nasional Indonesia setelah melawan Malaysia di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Selasa (19/11/2019), menyulut kemarahan banyak orang.
Warga menyerukan tagar #GanyangMalaysia dan #shameonyousaddiq untuk menanggapi penganiayaan dan penikaman yang diduga dilakukan oleh orang Malaysia.
Tim Pantuan, Jumat (22/11/2019), #GanyangMalaysia berada di atas topik trending Twitter Indonesia saat berita ini ditulis. Sementara #shameonyousaddiq di posisi keempat.
Banyak warga mengungkapkan kemarahan mereka pada pelaku dan Menpora Malaysia, Syed Saddiq. Mereka menuntut Syed Saddiq meminta maaf atas tindakan para pendukung Malaysia dan menangkap para pelaku penganiayaan.
Warga menyesalkan pernyataan Syed Saddiq yang hanya memerintahkan korban untuk membuat laporan polisi. Dia tidak menyampaikan permintaan maaf.
Syed Saddiq juga menjamin bahwa proses investigasi akan dilakukan secara transparan.
"Jika seseorang dipukuli, tolong katakan padanya untuk membuat laporan kepada polisi. Kami akan memastikan bahwa akan ada penyelidikan yang tepat & transparan. Keadilan adalah untuk semua, apakah itu dari Malaysia atau Indonesia," tulisnya di akun Twitter resminya.
Berikut adalah beberapa warga negara & # 39; tweet yang terkait dengan penganiayaan:
"Malu pada kamu @ syedsaddiq #GanyangMalaysia," tulis @eko_al_kawisky.
"Bukti kebiadaban pendukung Malaysia. Ini mengkonfirmasi kebenaran video. Secara kronologis singkatnya, sehingga korban naik taksa di Malaysia, maka pengemudi yang sama bahkan dibawa ke sekelompok pendukung Malaysia yang siap untuk berkumpul, lalu diturunkan secara paksa di lokasi itu. #GanyangMalaysia, "celetuk pemilik akun @ibnuabdillahh.
"Saya tidak ingin mengatakan apa-apa. Tapi Astaghfirullah …. Malaysia PENUH KEMUDIAN #GanyangMalaysia," cucupetani menulis.
"Kami bahkan tidak perlu menaruh hormat pada mereka yang telah terbiasa mencuri budaya kami sepanjang waktu, kami bahkan tidak perlu sama sekali membutuhkannya untuk banyak omong kosong seperti @ SyedSaddiq dan seluruh orang Malaysia # maluonyousaddiq #shameonyoumalaysia #GanyangMalaysia, "tweet dari akun gilangadit7.
"Meskipun saya bukan penggemar sepak bola, tetapi ini semua tentang kemanusiaan … terlepas dari perbedaan atau kemarahan, tindakan ini tidak dapat diterima dan harus diproses ke pengadilan karena kasus ini terjadi di antara 2 negara .. #shameonyoumalaysia #shameonyousaddiq, "kata sebuah tweet dari @czar_narto.
Pos Pendukung Indonesia Dianiaya, Netizens Menyerukan untuk #GanyangMalaysia muncul pertama kali di Berita Hari Ini – Berita Harian Terbaru.



Source link